BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Farmasi
merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang mempunyai kombinasi bukan hanya dari
ilmu kesehatan tetapi juga
dari ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu fisika dan ilmu kimia.
Dalam farmasi tidak hanya mempelajari cara membuat, mencampur, meracik
formulasi obat, dan mengidentifikasi bahan obat, tetapi juga mempelajari ilmu farmakologi dan toksikologi dari suatu obat.
Farmakologi dan toksikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengaruh
senyawa terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor serta
efek samping yang ditimbulkan terhadap sel hidup (Sloana,E. 2003).
Tubuh makhluk hidup tersusun atas sel dan jaringan yang meliputi
organ-organ dan sistem yang mengendalikan kerja fisiologis tubuh. Hal ini
menjadi sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satu sistem yang
sangat berpengaruh dalam kerja fisiologi tubuh manusia adalah sistem saraf. Sistem saraf
adalah serangkaian organ yang kompleks dan
bersambungan serta terdiri terutama dari
jaringan saraf.
Salah satu fungsi dari sistem saraf yaitu mentransmisi
suatu respon terhadap stimulasi (Sloana, E. 2003).
Secara umum sistem saraf dibagi menjadi
dua bagian yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat merupakan pengendali seluruh kegiatan
tubuh dimana sistem
ini terdiri
atas otak dan sumsum tulang belakang. Otak berfungsi sebagai pusat koordinasi utama dalam sistem
saraf dan sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan rangsangan keotak.
Obat yang bekerja pada sistem saraf
pusat terbagi menjadi obat depresan saraf pusat yaitu anestetik umum (memblokir
rasa sakit), hipnotik sedative (menyebabkan tidur), psikotropik (menghilangkan
gangguan jiwa), antikunvulsi (menghilangkan kejang), analgetik (mengurangi rasa
sakit), opiod, analgetik-antipiretik-antiinflamasi dan perangsangan susunan
saraf pusat.
Khusus dalam percobaan kali
ini yaitu tentang obat-obat yang
berhubungan dengan sistem saraf
pusat. Dimana dalam
percobaan ini dilakukan
pengamatan terhadap mencit yang diberi larutan Na-CMC, dan paracetamol dalam
larutan Na-CMC.
I.2 Maksud Percobaan
1. Mempelajari
efek obat anastesi sistem saraf pusat 1 terhadap hewan coba.
2. Mempelajari
efek obat antipiuretik sistem saraf pusat 2 terhadap hewan coba.
I.3 Tujuan Percobaan
1. Menghitung
onset dan durasi dari pemberian kloroform dan eter terhadap mencit.
2. Membandingkan
efek yang dihasilkan antara pemberian larutan Na-CMC dan obat paracetamol dalam
larutan Na-CMC terhadap mencit.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
II.1. Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf adalah serangkaian organ
yang kompleks dan bersambungan serta saraf terdiri terutama dari jaringan saraf
dimana mekanisme sistem saraf lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur
(Sloana, E. 2003).
Sistem saraf merupakan sistem yang
terdiri dari semua jaringan saraf baik otak, medula spinalis, saraf dan
ganglion dimana sistem saraf ini berfungsi untuk menerima rangsangan dan
mentransmisi informasi ke pusat saraf untuk dihasilkannya respon yang sesuai
(Joyce, 1996)
Susunan saraf
pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan saraf
yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi
sistem saraf antara lain: mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi
antara individu dengan lingkungan sekitarnya.
II.2
Pembagian Sistem Saraf
Dalam pembagiannya, sistem saraf dibagi menjadi 2
bagian besar yakni sistem saraf pusat, dan sistem saraf tepi/perifer. Sistem
saraf pusat terbagi lagi menjadi otak dan medulla spinalis, sedangkan untuk
sistem saraf tepi masih terbagi lagi menjadi susunan saraf otonom dan susunan
saraf somatik. Selanjutnya sistem saraf otonom dibagi lagi menjadi sistem saraf
simpatik dan sistem sara parasimpatik. Terdapat perbedaan antara
sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi, antara lain (Furganita, 2007):
1. Pada sistem
saraf pusat kumpulan neuron disebut dengan nuclei, sedangkan pada sistem saraf
tepi disebut dengan ganglion.
2. Pada sistem
saraf pusat, kumpulan akson disebut dengan traktus sedangkan pada sistem saraf
tepi kumpulan aksodisebut nervus.
Susunan
saraf perifer berfungsi menghantarkan impuls dari dan ke susunan saraf-saraf
pusat atau dengan istilah lain dari saraf efferen
(motor) ke saraf afferen
(sensorik). Rangsan seperti sakit, panas, rasa, cahaya, suara, mula-mula
diterima oleh sel-sel penerima (reseptor) kemudian dilanjutkan ke otak dan
sum-sum tulang belakang.
Perbedaan
sistem saraf
simpatik dan sistem sara parasimpatik (Furganita, 2007):
|
No
|
Sistem
saraf simpatik
|
Sistem
saraf parasimpatik
|
|
1.
|
Mempercepat
denyut jantung
|
Memperlambat
denyut jantung
|
|
2.
|
Meningkatkan
tekanan darah
|
Menurunkan
tekanan darah
|
|
3.
|
Melebarkan
pupil
|
Mengecilkan
pupil
|
|
4.
|
Memperbesar
bronkus
|
Memperkecil
bronkus
|
|
5.
|
Menghambat pembentukan urin
|
Merangsang
pembentukan urin
|
II.3 Obat-obat yang mempengaruhi Sistem Saraf
Pusat (SSP)
Obat
perangsang ssp adalah obat yang dalam dosis kecil mempunyai efek perangsang ssp
dan bila dosisnya ditingkatkan akan membentuk efek eksitasi/ konfulsi (Wibowo,
2010)
II.4 Obat
yang bekerja pada Sistem Saraf Pusat I (SSP I) (Mardjono, 2007)
Obat yang bekerja pada sistem saraf ini
lebih ke obat anastesi umum. Anastesi umum adalah senyawa obat yang dapat
menimbulkan anesthesia atau narkosa, yakni suatu keadaan depresi yang bersifat
reversible, seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan, agak mirip dengan
keadaan pingsan.
Anastesi umum digunakan untuk
menghilangkan rasa nyeri dan memblok reaksi serta menimbulkan relaksasi pada
pembedahan.
Tahap-tahap anastesi:
1. Analgesia
yaitu kesadaran berkurang, rasa nyeri hilang dan terjadi euforia (rasa nyaman)
yang disertai impian-impian yang menyerupai halusinasi. Eter dan nitrogen
monoksida memberikan analgesia yang baik pada tahap ini, sedangkan halutan dan
toepental tahap berikutnya.
2. Eksitasi
yaitu kesadaran hilang dan terjadi kegelisahan
3. Anastesi
yaitu pernapasan menjadi dangkal dan cepat, teratur seperti tidur (pernapasan
perut), gerakan bola mata dan refleks mata hilang, otot lemas
4. Pelumpuhan
sumsum tulang yaitu kerja jantung dan pernapasan berhenti. Tahap ini harus
dihindari.
Anastesi umum dibagi menurut bentuk
fisiknya terdiri dari 2 macam, yaitu:
1. Anastesi
inhalasi
Anastesi inhalasi adalah anastesi yang
diberikan dan diserap secara terkontrol dan cepat, karena diserap dan
dikeluarkan melalui paru-paru serta tidak menimbulkan efek toksik atau efek
sampingnya yang berat dalam dosis lazim (Mardjono, 2007).
Macam-macam obat anastesi inhalasi
(Herryudha, 2013):
a. NO2
Gas ini bersifat anastesi lemah, tetapi
analgesiknya kuat sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang
persalinan
b. Halutan
Zat
ini memiliki analgesik yang lemah, namun anastesinya kuat, dimana halutan biasa
digunakan pada proses bedah besar
c. Influran
Anastesi yang menimbulkan efek depresi
nafas lebih kuat, depresi terhadap sirkulasi lebih kuat.
d. Isofluran
Anastesi yang jika pada dosis anastetik
dapat menurunkan laju metabolisme otak terhadap oksigen, tetapi meninggikan
aliran darah otak dan tekanan intrakranial.
2. Anastesi
intravena
Anastesi intravena merupakan anastesi
yang digunakan untuk membuat tidur pasien yang menggunakan respirator. Memiliki
efek yang sadar yang lebih cepat dan lebih menyenangkan. Contoh obat anastesi
intravena yaitu barbiturat, propofol, ketamin, opioid, dan benzodiazepim.
Mekanisme kerja obat anastesi umum
(Mardjono, 2007):
1. Pada
otak
Anastetik inhalasi menghambat transmisi
sinaps disistem retikularis asendens, korteks serebri dan hikompus. Penyampaian
informasi sensoris dari talamus dibagian tertentu dikorteks, sangat peka
terhadap anastesi.
2. Pada
medula spinalis
Anastetik mengubah respons sensoris dari
komudarsalis terhadap rangsangan nyeri maupun rangsangan lainnya yang tidak
menimbulkannya beberapa anastetik yang
menguap dapat menekan neuron motorik spinalis.
II.5
Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat II (Mardjono, 2007)
Obat
yang bekerja pada saraf ini lebih ke obat psikotropik yaitu obat yang
mempengaruhi fungsi psikis, kelakuan dan pengalaman. Obat-obat psikotropik
dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Obat-obat
yang menekan fungsi psikis di SSP :
a) Neuroleptika,
yang bekerja antipsikosis dan sedatif, digunakan pada macam-macam psikosis
seperti schizoprenia, mania
b) Tranquilizer/
ataraktika/ ansiolitika yaitu senyawa yang kerjanya sedatif, relaksasi otot,
antikonvulsif digunakan pada keadaan neurotis misalnya gelisah, takut, stress.
2. Obat-obat
yang memacu fungsi-fungsi psikis tertentu di SSP:
a) Antidepresi
yang terdiri dari :
1) Timoleptika,
yang digunakan untuk melawan melankolia dan memperbaiki suasana jiwa.
2) Timeretika,
digunakan untuk menghilangkan inaktivitas fisik dan mental yang menyertai
depresi tanpa memperbaiki suasana jiwa
b) Psikostimulansia,
obat yang digunakan untuk memperbaiki inisiatif, kewaspadaan, menghilangkan
rasa letih dan kantuk, serta menaikkan prestasi fisik dan mental. Tidak digunakan
sebagai antidepresi, misalnya amfetamin, metil fenidat, fenkamfamin juga kafein.
3. Obat-obat
yang mengacaukan fungsi mental tertentu, karena obat-obat ini menyebabkan
halusinasi, pikiran misalnya LSD, fensiklin.
II.6
Mekanisme kerja obat Psikotropik (Mardjono, 2007)
Bila terjadi stimulasi sistem saraf
makan kadar neurotransmiter seperti monoamin, dopamin, adrenalin, asetilkolin,
serotonin naik. Neurotransmitter terpenting diotak adalah noradrenalin,
serotonin, dopamin kadarnya juga akan naik. Setelah neurotransmiter ini dilepas
oleh gelembung ujung saraf dia akan diabsorbsi kembali. Psikotropik menurunkan
kadar neurotransmiter tersebut dengan cara memblokade, merintangi absorbsi
neurotransmiter tersebut, sehingga saraf kekurangan neurotransmiter dan akibatnya
aktivitasnya menurun.
BAB III
METODE
PENELITIAN
III.1 ALAT
1. Alu
2. Dispo
3. Gelas
Kimia
4. Gelas
Ukur
5. Kaca
Arloji
6. Lumpang
7. Neraca
Analitik
8. Pipet
9. Waterbath
III.2 BAHAN
1. Alkohol
2. Aluminium
Foil
3. Antalgin
4. Eter
5. Kapas
6. Kertas
Perkamen
7. Na-CMC
8. Tissu
III.3 CARA KERJA
A.
Cara
Kerja Pada SSP I
1. Disiapkan
alat dan bahan
2. Dibersihkan
alat menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang
mencit
4. Dimasukkan
mencit kedalam gelas kimia
5. Ditutup
gelas kimia dengan aluminium foil
6. Dicatat
kecepatan pernafasan dan aktivitasnya
7. Dibuka
penutup gelas kimia dan masukkan kapas yang telah dibasahi dengan 0,75 ml kloroforom
8. Ditutup
kembali gelas kimia dengan aluminium foil
9. Dicatat
waktu mencit sampai teranastesi
10. Dibuka
penutup gelas kimia
11. Dikeluarkan
mencit dari gelas kimia
12. Dicatat
waktu sampai mencit sadar
B.
Cara
Kerja Pada SSP II
Pemberian Na-CMC
1. Ditimbang
Na-CMC sebanyak 0,5 gram
2. Diukur
air panas sebanyak 50 mL
3. Dimasukkan
Na-CMC kedalam lumpang
4. Digerus
hingga halus
5. Ditambahkan
air panas sedikit demi sedikit
6. Digerus
hingga membentuk suspensi
7. Ditimbang
mencit
8. Diambil
larutan Na-CMC menggunakan dispo sebanyak 0,88 mL
9. Dimasukkan
larutan Na-CMC secara oral pada mencit
10. Di
letakkan mencit diatas plat panas pada suhu 55o C
11. Diuji
efek analgetik
Pemberian Obat Paracetamol
1. Ditimbang
Na-CMC sebanyak 0,5 gram
2. Diukur
air panas sebanyak 50 mL
3. Dimasukkan
Na-CMC kedalam lumpang
4. Digerus
hingga halus
5. Ditambahkan
air panas sedikit demi sedikit
6. Digerus
hingga membentuk suspensi
7. Ditambahkan
parcetamol sebanyak 92,44 gram
8. Digerus
hingga homogen
9. Ditimbang
mencit
10. Diambil suspensi
antalgin menggunakan dispo sebanyak 0,74 mL
11. Dimasukkan
suspensi paracetamol secara
oral pada mencit
12. Didiamkan
mencit selama 15 menit
13. Diletakkan
mencit diatas plat panas pada suhu 55oc
14. Diamati
perilaku mencit
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
IV.1.1 Hasil Pengamatan Sistem Saraf Pusat I (SSP I)
|
Obat
|
BB Hewan
(gram)
|
Onset
|
Durasi
|
|
|
|
||
|
Kloroform
Eter
|
25
25
|
57 detik
2 menit 4 detik
|
39,46 detik
55 detik
|
IV.1.2 Hasil Pengamatan Sistem Saraf Pusat II (SSP
II)
|
Obat
|
BB Hewan
(gram)
|
Pengangkatan
|
|
|
10 menit
|
20 menit
|
||
|
Paracetamol
Na-CMC
|
26,6
22,2
|
118x
1x
|
104x
159x
|
IV.2 Pembahasan
IV.2.1 Sistem Saraf Pusat I
Sistem
saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan saraf lainnya
didalam tubuh biasanya bekerja dibawah kesadaran atau kemauan (Olson, 2002).
Dalam
percobaan ini kita dapat memahami obat-obat apa saja yang merangsang atau
bekerja pada sistem saraf pusat. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat
terbagi menjadi obat depresan saraf pusat, yaitu anastetik umum (memblokir rasa
sakit), hipnotik sedativ (menyebabkan tidur), psikotropik (menghilangkan rasa
sakit), opioid. Analgetik, antipiretik, antiinflamasi dan perangsang susunan
saraf pusat. Anastetik umum merupakan depresan SSP, dibedakan menjadi anastetik
inhalasi yaitu anastetik gas, anastetik menguap dan anastetik menguap dan
anestetik intravena. Pada percobaan ini digunakan hanya anastetik menguap
berupa larutan kloroform dan eter.
Percobaan
kali ini dilakukan guna mengetahui mekanisme anastetik umum secara inhalasi. Mekanisme
kerja dari aneatetik umum menghambat transmisi
sinaps di sistem retikularis asedens korteks, serebri dan penyampaian informasi
sensoris dari talamus di bagian tertentu di korteks yang peka terhadap
anastesi, anastesi mengubah respons sensoris dan komudarsalis terhadap
ransangan nyeri maupun ransangan lainnya
Pada percobaan ini diamati dan dihitung onset serta durasi
zat-zat anestesi. Berat mencit yang digunakan pada
percobaan ini yaitu 25 g. Zat
uji yang digunakan untuk anastesi umum didalam percobaan ini yaitu kloroform,
dan eter. Onset adalah mula
kerja obat, dihitung mulai waktu mencit diberi zat uji sampai mencit
teranestesi, sedang durasi adalah lama bekerja obat, dihitung mulai mencit
teranestesi sampai mencit sadar (Ganiswarna, 1995).
Dalam
percobaan pertama dilakukan anastesi menggunakan larutan kloroform sebanyak 0,75
mL, sebelum mencit diberikan perlakuan diamati perilaku mencit pada saat
dimasukkan dalam wadah berupa gelas kimia mencit terlihat tampak gelisah hal
ini disebabkan mencit mengalami stres sebelum diberi perlakuan, selanjutnya
kapas yang telah diberi larutan kloroform dimasukkan kedalam wadah tersebut
terlihat mencit gejala yang ditunjukkan mencit yaitu gelisah, buang air besar,
tertidur dan langsung pingsan dengan onset 57 detik dengan durasi selama 39,46
detik. Pada saat sadar mencit tersebut tampak terlihat lemas, pusing, dan
berjalan dengan tertatih akibat dari efek pemberian anastesi.
Pada
percobaan menggunakan eter sebanyak 1,5 mL, onset yang diperoleh yaitu 2 menit
43 detik dengan durasi 55 detik dan gejala yang ditunjukkan pada mencit yaitu
grooming, tenang hingga tertidur. Mekanisme kerja dari eter yaitu eter melakukan kontraksi pada otot jantung, terapi in
vivo ini dilawan oleh meningginya aktivitas simpati sehingga curah jantung
tidak berubah, eter menyebabkan dilatasi pembuluh darah kulit. Eter diabsorpsi
dan diekskresi melalui paru-paru, sebagian kecil diekskresi urin, air susu, dan
keringat. Efek sampingnya yaitu iritasi saluran pernafasan, depresi
nafas, mual, muntah, salivasi (Ganiswarna, 1995).
Dalam
penggunaan larutan kloroform untuk anastesi digunakan volume larutan lebih
sedikit dari penggunaan eter hal tersebut dikarenakan larutan kloroform lebih
bersifat toksik dibanding dengan larutan eter (Olson, 2002).
IV.2.2 Sistem
Saraf Pusat II
Pada
praktikum sistem saraf 2 mengunakan obat-obat antipiretik digunakan obat
parasetamol dan digunakan Na-CMC sebagai kontrol. Pada percobaan ini dilihat
dan diakumulasi jumlah refleks angkat kaki mencit terhadap lempeng panas dengan
suhu 550 C. Sebelum mencit dinaikkan ke atas lempeng panas terlebih
dahulu masing-masing mencit diberikan secara oral suspensi paracetamol sebanyak
0,74 mL dan Na-CMC sebanyak 0,44 mL.
Dari
percobaan diperoleh jumlah refleks angkat kaki mencit dengan pemberian
paracetamol pada menit ke-10 adalah 1 kali, dan menit ke-20 adalah 159 kali. Hal
ini dikarenakan obat antipiretik bekerja dengan cara merintangi terbentuknya
rangsangan pada reseptor rangsangan pada panas yang diatur oleh hipotalamus
sehingga ambang rasa panas (Mardjono, 2012), pada mencit yang diberikan obat
paracetamol ditingkatkan sehingga mencit pada pada menit ke-10 belum merasakan
rasa panas.
Pada menit
ke-20 mencit sudah merasakan rasa panas yang ditimbulkan oleh adanya rangsangan
panas yang diberikan melalui lempeng. Hal ini dikarenakan durasi waktu dari
parasetamol telah habis sehingga mencit kembali menjadi normal.
Pada mencit
yang diberikan suspensi Na-CMC jumlah refleks angkat kaki pada menit ke-10
adalah 118 kali, dan pada menit ke-20 adalah 104 kali. Hal ini dikarenakan
mencit tersebut merasakan panas yang berlebih karena adanya rangsangan panas
yang diberikan melalui lempeng yang dipanaskan. Mencit yang hanya diberikan
suspensi Na-CMC saja tanpa adanya obat yang bersifat antipiretik ambang rasa nyeri
pada mencit tersebut tidak dinaikkan sehingga mencit merasakan nyeri secara
normal yang ditandai dengan keluarnya keringat berlebih. Pada menit ke 20
frekuensi refleks angkat kaki mencit mulai berkurang menjadi 104 kali. Hal ini
diakibatkan karena mencit mulai merasakan lelah dan lemas karena menahan panas.
Saat mencit dikeluarkan dari atas lempeng mencit tersebut sudah dalam keadaan
lemas dan tidak ada tanda-tanda pergerakan dari mencit tersebut dinyatakan
mati.
BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
1. Waktu
onset pemberian kloroform pada mencit yaitu 57
detik dan durasi yang dibutuhkan mencit untuk mengembalikan kesadarannya yaitu 39,46 detik. Sedangkan waktu
onset pemberian eter yaitu 2 menit 43 detik dan durasi yang dibutuhkan yaitu 55 detik.
2. Efek
yang dihasilkan oleh mencit pada pemberian larutan Na-CMC lebih banyak
dibandingkan dengan pemberian paracetamol dalam larutan Na-CMC, dimana mencit
yang telah diberi larutan Na-CMC dengan
berat badan 26,6 gram mengangkat kakinya sebanyak 118 kali pada menit ke 10
dan 104 kali pada menit ke 20,
sedangkan mencit yang diberi paracetamol dalam larutan Na-CMC dengan berat 22,2 gram mengangkat kakinya sebanyak 1 kali pada menit ke 10
dan 159 kali pada menit ke .
V.2 Saran
Diharapkan
praktikan lebih terampil dalam menangani hewan coba agar didapatkan hasil yang akurat.
DAFTAR
PUSTAKA
Ganiswarna. G Sulistia. 1995. Farmakologi
dan Terapi Edisi 4.Jakarta: Gaya baru
Kee, J dan Hayes, E. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC
Mardjono, M. 2012. Farmakologi dan Terapi edisi . Jakarta: UI- press
Olson, James, M D. 2002. Belajar Mudah
Farmakologi. Jakarta: EGC
Prasodjo, B, dkk. 2007. Ipa Terpadu. Jakarta: Yudistira
Sloana, E. 2003. Anatomi
dan Fiisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC