Jumat, 08 April 2016

laporan farmakologi ssp 1 dan ssp 2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Farmasi merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang mempunyai kombinasi bukan hanya dari ilmu kesehatan tetapi juga dari ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu fisika dan ilmu kimia. Dalam farmasi tidak hanya mempelajari cara membuat, mencampur, meracik formulasi obat, dan mengidentifikasi bahan obat, tetapi juga mempelajari ilmu farmakologi dan toksikologi dari suatu obat. Farmakologi dan toksikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pengaruh senyawa terhadap sel hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor serta efek samping yang ditimbulkan terhadap sel hidup (Sloana,E. 2003).
Tubuh makhluk hidup tersusun atas sel dan jaringan yang meliputi organ-organ dan sistem yang mengendalikan kerja fisiologis tubuh. Hal ini menjadi sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia. Salah satu sistem yang sangat berpengaruh dalam kerja fisiologi tubuh manusia adalah sistem saraf. Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Salah satu fungsi dari sistem saraf yaitu mentransmisi suatu respon terhadap stimulasi (Sloana, E. 2003).
Secara umum sistem saraf dibagi menjadi dua bagian yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat merupakan pengendali seluruh kegiatan tubuh dimana sistem ini terdiri atas otak dan sumsum tulang belakang. Otak berfungsi sebagai pusat koordinasi utama dalam sistem saraf dan sumsum tulang belakang berfungsi menghantarkan rangsangan keotak.
Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi obat depresan saraf pusat yaitu anestetik umum (memblokir rasa sakit), hipnotik sedative (menyebabkan tidur), psikotropik (menghilangkan gangguan jiwa), antikunvulsi (menghilangkan kejang), analgetik (mengurangi rasa sakit), opiod, analgetik-antipiretik-antiinflamasi dan perangsangan susunan saraf pusat.
Khusus dalam percobaan kali ini yaitu tentang obat-obat yang berhubungan dengan sistem saraf pusat. Dimana dalam percobaan ini dilakukan pengamatan terhadap mencit yang diberi larutan Na-CMC, dan paracetamol dalam larutan Na-CMC.
I.2   Maksud Percobaan
1.    Mempelajari efek obat anastesi sistem saraf pusat 1 terhadap hewan coba.
2.    Mempelajari efek obat antipiuretik sistem saraf pusat 2 terhadap hewan coba.
I.3   Tujuan Percobaan
1.    Menghitung onset dan durasi dari pemberian kloroform dan eter terhadap mencit.
2.    Membandingkan efek yang dihasilkan antara pemberian larutan Na-CMC dan obat paracetamol dalam larutan Na-CMC terhadap mencit.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1.     Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta saraf terdiri terutama dari jaringan saraf dimana mekanisme sistem saraf lingkungan internal  dan stimulus eksternal dipantau dan diatur (Sloana, E. 2003).
Sistem saraf merupakan sistem yang terdiri dari semua jaringan saraf baik otak, medula spinalis, saraf dan ganglion dimana sistem saraf ini berfungsi untuk menerima rangsangan dan mentransmisi informasi ke pusat saraf untuk dihasilkannya respon yang sesuai (Joyce, 1996)
Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain: mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.

II.2      Pembagian Sistem Saraf
Dalam pembagiannya, sistem saraf dibagi menjadi 2 bagian besar yakni sistem saraf pusat, dan sistem saraf tepi/perifer. Sistem saraf pusat terbagi lagi menjadi otak dan medulla spinalis, sedangkan untuk sistem saraf tepi masih terbagi lagi menjadi susunan saraf otonom dan susunan saraf somatik. Selanjutnya sistem saraf otonom dibagi lagi menjadi sistem saraf simpatik dan sistem sara parasimpatik. Terdapat perbedaan antara sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi, antara lain (Furganita, 2007):
1.    Pada sistem saraf pusat kumpulan neuron disebut dengan nuclei, sedangkan pada sistem saraf tepi disebut dengan ganglion.
2.    Pada sistem saraf pusat, kumpulan akson disebut dengan traktus sedangkan pada sistem saraf tepi kumpulan aksodisebut nervus.
Susunan saraf perifer berfungsi menghantarkan impuls dari dan ke susunan saraf-saraf pusat atau dengan istilah lain dari saraf efferen (motor) ke saraf afferen (sensorik). Rangsan seperti sakit, panas, rasa, cahaya, suara, mula-mula diterima oleh sel-sel penerima (reseptor) kemudian dilanjutkan ke otak dan sum-sum tulang belakang.
Perbedaan sistem saraf simpatik dan sistem sara parasimpatik (Furganita, 2007):
No
Sistem saraf simpatik
Sistem saraf parasimpatik
1.
Mempercepat denyut jantung
Memperlambat denyut jantung
2.
Meningkatkan tekanan darah
Menurunkan tekanan darah
3.
Melebarkan pupil
Mengecilkan pupil
4.
Memperbesar bronkus
Memperkecil bronkus
5.
Menghambat pembentukan urin
Merangsang pembentukan urin

II.3      Obat-obat yang mempengaruhi Sistem Saraf Pusat (SSP)
Obat perangsang ssp adalah obat yang dalam dosis kecil mempunyai efek perangsang ssp dan bila dosisnya ditingkatkan akan membentuk efek eksitasi/ konfulsi (Wibowo, 2010)
II.4    Obat yang bekerja pada Sistem Saraf Pusat I (SSP I) (Mardjono, 2007)
Obat yang bekerja pada sistem saraf ini lebih ke obat anastesi umum. Anastesi umum adalah senyawa obat yang dapat menimbulkan anesthesia atau narkosa, yakni suatu keadaan depresi yang bersifat reversible, seluruh perasaan dan kesadaran ditiadakan, agak mirip dengan keadaan pingsan.
Anastesi umum digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dan memblok reaksi serta menimbulkan relaksasi pada pembedahan.
Tahap-tahap anastesi:
1.    Analgesia yaitu kesadaran berkurang, rasa nyeri hilang dan terjadi euforia (rasa nyaman) yang disertai impian-impian yang menyerupai halusinasi. Eter dan nitrogen monoksida memberikan analgesia yang baik pada tahap ini, sedangkan halutan dan toepental tahap berikutnya.
2.    Eksitasi yaitu kesadaran hilang dan terjadi kegelisahan
3.    Anastesi yaitu pernapasan menjadi dangkal dan cepat, teratur seperti tidur (pernapasan perut), gerakan bola mata dan refleks mata hilang, otot lemas
4.    Pelumpuhan sumsum tulang yaitu kerja jantung dan pernapasan berhenti. Tahap ini harus dihindari.
Anastesi umum dibagi menurut bentuk fisiknya terdiri dari 2 macam, yaitu:
1.    Anastesi inhalasi
Anastesi inhalasi adalah anastesi yang diberikan dan diserap secara terkontrol dan cepat, karena diserap dan dikeluarkan melalui paru-paru serta tidak menimbulkan efek toksik atau efek sampingnya yang berat dalam dosis lazim (Mardjono, 2007).
Macam-macam obat anastesi inhalasi (Herryudha, 2013):
a.    NO2
Gas ini bersifat anastesi lemah, tetapi analgesiknya kuat sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan
b.    Halutan
   Zat ini memiliki analgesik yang lemah, namun anastesinya kuat, dimana halutan biasa digunakan pada proses bedah besar
c.    Influran
Anastesi yang menimbulkan efek depresi nafas lebih kuat, depresi terhadap sirkulasi lebih kuat.
d.   Isofluran
Anastesi yang jika pada dosis anastetik dapat menurunkan laju metabolisme otak terhadap oksigen, tetapi meninggikan aliran darah otak dan tekanan intrakranial.
2.    Anastesi intravena
Anastesi intravena merupakan anastesi yang digunakan untuk membuat tidur pasien yang menggunakan respirator. Memiliki efek yang sadar yang lebih cepat dan lebih menyenangkan. Contoh obat anastesi intravena yaitu barbiturat, propofol, ketamin, opioid, dan benzodiazepim.




Mekanisme kerja obat anastesi umum (Mardjono, 2007):
1.    Pada otak
Anastetik inhalasi menghambat transmisi sinaps disistem retikularis asendens, korteks serebri dan hikompus. Penyampaian informasi sensoris dari talamus dibagian tertentu dikorteks, sangat peka terhadap anastesi.
2.    Pada medula spinalis
Anastetik mengubah respons sensoris dari komudarsalis terhadap rangsangan nyeri maupun rangsangan lainnya yang tidak menimbulkannya  beberapa anastetik yang menguap dapat menekan neuron motorik spinalis.
II.5 Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat II (Mardjono, 2007)
Obat yang bekerja pada saraf ini lebih ke obat psikotropik yaitu obat yang mempengaruhi fungsi psikis, kelakuan dan pengalaman. Obat-obat psikotropik dibagi menjadi 3, yaitu :
1.    Obat-obat yang menekan fungsi psikis di SSP :
a)    Neuroleptika, yang bekerja antipsikosis dan sedatif, digunakan pada macam-macam psikosis seperti schizoprenia, mania
b)   Tranquilizer/ ataraktika/ ansiolitika yaitu senyawa yang kerjanya sedatif, relaksasi otot, antikonvulsif digunakan pada keadaan neurotis misalnya gelisah, takut, stress.
2.    Obat-obat yang memacu fungsi-fungsi psikis tertentu di SSP:
a)    Antidepresi yang terdiri dari :
1)   Timoleptika, yang digunakan untuk melawan melankolia dan memperbaiki suasana jiwa.
2)   Timeretika, digunakan untuk menghilangkan inaktivitas fisik dan mental yang menyertai depresi tanpa memperbaiki suasana jiwa
b)   Psikostimulansia, obat yang digunakan untuk memperbaiki inisiatif, kewaspadaan, menghilangkan rasa letih dan kantuk, serta menaikkan prestasi fisik dan mental. Tidak digunakan sebagai antidepresi, misalnya amfetamin, metil fenidat, fenkamfamin juga kafein.
3.    Obat-obat yang mengacaukan fungsi mental tertentu, karena obat-obat ini menyebabkan halusinasi, pikiran misalnya LSD, fensiklin.
II.6 Mekanisme kerja obat Psikotropik (Mardjono, 2007)
Bila terjadi stimulasi sistem saraf makan kadar neurotransmiter seperti monoamin, dopamin, adrenalin, asetilkolin, serotonin naik. Neurotransmitter terpenting diotak adalah noradrenalin, serotonin, dopamin kadarnya juga akan naik. Setelah neurotransmiter ini dilepas oleh gelembung ujung saraf dia akan diabsorbsi kembali. Psikotropik menurunkan kadar neurotransmiter tersebut dengan cara memblokade, merintangi absorbsi neurotransmiter tersebut, sehingga saraf kekurangan neurotransmiter dan akibatnya aktivitasnya menurun.




BAB III
METODE PENELITIAN

III.1     ALAT
1.      Alu
2.      Dispo
3.      Gelas Kimia
4.      Gelas Ukur
5.      Kaca Arloji
6.      Lumpang
7.      Neraca Analitik
8.      Pipet
9.      Waterbath
III.2     BAHAN
1.      Alkohol
2.      Aluminium Foil
3.      Antalgin
4.      Eter
5.      Kapas
6.      Kertas Perkamen
7.      Na-CMC
8.      Tissu
III.3     CARA KERJA
A.    Cara Kerja Pada SSP I
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3.      Ditimbang mencit
4.      Dimasukkan mencit kedalam gelas kimia
5.      Ditutup gelas kimia dengan aluminium foil
6.      Dicatat kecepatan pernafasan dan aktivitasnya
7.      Dibuka penutup gelas kimia dan masukkan kapas yang telah dibasahi dengan 0,75 ml kloroforom  
8.      Ditutup kembali gelas kimia dengan aluminium foil
9.      Dicatat waktu mencit sampai teranastesi
10.  Dibuka penutup gelas kimia
11.  Dikeluarkan mencit dari gelas kimia
12.  Dicatat waktu sampai mencit sadar
B.     Cara Kerja Pada SSP II
Pemberian Na-CMC
1.      Ditimbang Na-CMC sebanyak 0,5 gram
2.      Diukur air panas sebanyak 50 mL
3.      Dimasukkan Na-CMC kedalam lumpang
4.      Digerus hingga halus
5.      Ditambahkan air panas sedikit demi sedikit
6.      Digerus hingga membentuk suspensi
7.      Ditimbang mencit
8.      Diambil larutan Na-CMC menggunakan dispo sebanyak 0,88 mL
9.      Dimasukkan larutan Na-CMC secara oral pada mencit
10.  Di letakkan mencit diatas plat panas pada suhu 55o C
11.  Diuji efek analgetik
Pemberian Obat Paracetamol
1.      Ditimbang Na-CMC sebanyak 0,5 gram
2.      Diukur air panas sebanyak 50 mL
3.      Dimasukkan Na-CMC kedalam lumpang
4.      Digerus hingga halus
5.      Ditambahkan air panas sedikit demi sedikit
6.      Digerus hingga membentuk suspensi
7.      Ditambahkan parcetamol sebanyak 92,44 gram
8.      Digerus hingga homogen
9.      Ditimbang mencit
10.  Diambil suspensi antalgin menggunakan dispo sebanyak 0,74 mL
11.  Dimasukkan suspensi paracetamol secara oral pada mencit
12.  Didiamkan mencit selama 15 menit
13.  Diletakkan mencit diatas plat panas pada suhu 55oc
14.  Diamati perilaku mencit



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1    Hasil Pengamatan
IV.1.1  Hasil Pengamatan Sistem Saraf Pusat I (SSP I)
Obat
BB Hewan
(gram)
Onset
Durasi


Kloroform
Eter
25
25
57 detik
2 menit 4 detik
39,46 detik
55 detik
IV.1.2  Hasil Pengamatan Sistem Saraf Pusat II (SSP II)
Obat
BB Hewan
(gram)
Pengangkatan
10 menit
20 menit
Paracetamol
Na-CMC
26,6
22,2
118x
1x
104x
159x
IV.2    Pembahasan
IV.2.1  Sistem Saraf Pusat I
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan saraf lainnya didalam tubuh biasanya bekerja dibawah kesadaran atau kemauan (Olson, 2002).
Dalam percobaan ini kita dapat memahami obat-obat apa saja yang merangsang atau bekerja pada sistem saraf pusat. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi obat depresan saraf pusat, yaitu anastetik umum (memblokir rasa sakit), hipnotik sedativ (menyebabkan tidur), psikotropik (menghilangkan rasa sakit), opioid. Analgetik, antipiretik, antiinflamasi dan perangsang susunan saraf pusat. Anastetik umum merupakan depresan SSP, dibedakan menjadi anastetik inhalasi yaitu anastetik gas, anastetik menguap dan anastetik menguap dan anestetik intravena. Pada percobaan ini digunakan hanya anastetik menguap berupa larutan kloroform dan eter.
Percobaan kali ini dilakukan guna mengetahui mekanisme anastetik umum secara inhalasi. Mekanisme kerja dari aneatetik umum menghambat transmisi sinaps di sistem retikularis asedens korteks, serebri dan penyampaian informasi sensoris dari talamus di bagian tertentu di korteks yang peka terhadap anastesi, anastesi mengubah respons sensoris dan komudarsalis terhadap ransangan nyeri maupun ransangan lainnya
Pada percobaan ini diamati dan dihitung onset serta durasi zat-zat anestesi. Berat mencit yang digunakan pada percobaan ini yaitu 25 g. Zat uji yang digunakan untuk anastesi umum didalam percobaan ini yaitu kloroform, dan eter. Onset adalah mula kerja obat, dihitung mulai waktu mencit diberi zat uji sampai mencit teranestesi, sedang durasi adalah lama bekerja obat, dihitung mulai mencit teranestesi sampai mencit sadar (Ganiswarna, 1995).
Dalam percobaan pertama dilakukan anastesi menggunakan larutan kloroform sebanyak 0,75 mL, sebelum mencit diberikan perlakuan diamati perilaku mencit pada saat dimasukkan dalam wadah berupa gelas kimia mencit terlihat tampak gelisah hal ini disebabkan mencit mengalami stres sebelum diberi perlakuan, selanjutnya kapas yang telah diberi larutan kloroform dimasukkan kedalam wadah tersebut terlihat mencit gejala yang ditunjukkan  mencit yaitu gelisah, buang air besar, tertidur dan langsung pingsan dengan onset 57 detik dengan durasi selama 39,46 detik. Pada saat sadar mencit tersebut tampak terlihat lemas, pusing, dan berjalan dengan tertatih akibat dari efek pemberian anastesi.
Pada percobaan menggunakan eter sebanyak 1,5 mL, onset yang diperoleh yaitu 2 menit 43 detik dengan durasi 55 detik dan gejala yang ditunjukkan pada mencit yaitu grooming, tenang hingga tertidur. Mekanisme kerja dari eter yaitu eter melakukan kontraksi pada otot jantung, terapi in vivo ini dilawan oleh meningginya aktivitas simpati sehingga curah jantung tidak berubah, eter menyebabkan dilatasi pembuluh darah kulit. Eter diabsorpsi dan diekskresi melalui paru-paru, sebagian kecil diekskresi urin, air susu, dan keringat. Efek sampingnya yaitu  iritasi saluran pernafasan, depresi nafas, mual, muntah, salivasi (Ganiswarna, 1995).
Dalam penggunaan larutan kloroform untuk anastesi digunakan volume larutan lebih sedikit dari penggunaan eter hal tersebut dikarenakan larutan kloroform lebih bersifat toksik dibanding dengan larutan eter (Olson, 2002).
IV.2.2             Sistem Saraf Pusat II
Pada praktikum sistem saraf 2 mengunakan obat-obat antipiretik digunakan obat parasetamol dan digunakan Na-CMC sebagai kontrol. Pada percobaan ini dilihat dan diakumulasi jumlah refleks angkat kaki mencit terhadap lempeng panas dengan suhu 550 C. Sebelum mencit dinaikkan ke atas lempeng panas terlebih dahulu masing-masing mencit diberikan secara oral suspensi paracetamol sebanyak 0,74 mL dan Na-CMC sebanyak 0,44 mL.
Dari percobaan diperoleh jumlah refleks angkat kaki mencit dengan pemberian paracetamol pada menit ke-10 adalah 1 kali, dan menit ke-20 adalah 159 kali. Hal ini dikarenakan obat antipiretik bekerja dengan cara merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor rangsangan pada panas yang diatur oleh hipotalamus sehingga ambang rasa panas (Mardjono, 2012), pada mencit yang diberikan obat paracetamol ditingkatkan sehingga mencit pada pada menit ke-10 belum merasakan rasa panas.
Pada menit ke-20 mencit sudah merasakan rasa panas yang ditimbulkan oleh adanya rangsangan panas yang diberikan melalui lempeng. Hal ini dikarenakan durasi waktu dari parasetamol telah habis sehingga mencit kembali menjadi normal.
Pada mencit yang diberikan suspensi Na-CMC jumlah refleks angkat kaki pada menit ke-10 adalah 118 kali, dan pada menit ke-20 adalah 104 kali. Hal ini dikarenakan mencit tersebut merasakan panas yang berlebih karena adanya rangsangan panas yang diberikan melalui lempeng yang dipanaskan. Mencit yang hanya diberikan suspensi Na-CMC saja tanpa adanya obat yang bersifat antipiretik ambang rasa nyeri pada mencit tersebut tidak dinaikkan sehingga mencit merasakan nyeri secara normal yang ditandai dengan keluarnya keringat berlebih. Pada menit ke 20 frekuensi refleks angkat kaki mencit mulai berkurang menjadi 104 kali. Hal ini diakibatkan karena mencit mulai merasakan lelah dan lemas karena menahan panas. Saat mencit dikeluarkan dari atas lempeng mencit tersebut sudah dalam keadaan lemas dan tidak ada tanda-tanda pergerakan dari mencit tersebut dinyatakan mati.



BAB V
PENUTUP
V.1    Kesimpulan
1.    Waktu onset pemberian kloroform pada mencit yaitu 57 detik dan durasi yang dibutuhkan mencit untuk mengembalikan kesadarannya yaitu 39,46 detik. Sedangkan waktu onset pemberian eter yaitu 2 menit 43 detik dan durasi yang dibutuhkan yaitu 55 detik.
2.    Efek yang dihasilkan oleh mencit pada pemberian larutan Na-CMC lebih banyak dibandingkan dengan pemberian paracetamol dalam larutan Na-CMC, dimana mencit yang telah diberi larutan Na-CMC dengan berat badan 26,6 gram mengangkat kakinya sebanyak 118 kali pada menit ke 10 dan 104 kali pada menit ke 20, sedangkan mencit yang diberi paracetamol dalam larutan Na-CMC dengan berat 22,2 gram mengangkat kakinya sebanyak 1 kali pada menit ke 10 dan 159 kali pada menit ke .
V.2    Saran
Diharapkan praktikan lebih terampil dalam menangani hewan coba agar didapatkan hasil yang akurat.





DAFTAR PUSTAKA

Ganiswarna. G  Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi 4.Jakarta: Gaya baru
Kee, J dan Hayes, E. 1996. Farmakologi Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Mardjono, M. 2012. Farmakologi dan Terapi edisi . Jakarta: UI- press
Olson, James, M D. 2002. Belajar Mudah Farmakologi. Jakarta: EGC
Prasodjo, B, dkk. 2007. Ipa Terpadu. Jakarta: Yudistira
Sloana, E. 2003. Anatomi dan Fiisiologi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC